Memasuki tahun 2026, tren olahraga di kota pahlawan mengalami pergeseran besar ke arah digitalisasi performa. Surabaya, sebagai salah satu kiblat bola basket nasional, kini mulai mengadopsi teknologi mutakhir untuk memastikan para atletnya tetap berada di level puncak. Tidak lagi hanya mengandalkan insting pelatih, para pemain basket di berbagai klub besar di kota ini mulai mewajibkan penggunaan perangkat pintar selama sesi latihan maupun pertandingan persahabatan. Penggunaan wearable tech telah bertransformasi dari sekadar aksesori gaya hidup menjadi alat analisis medis yang krusial untuk meminimalkan risiko cedera dan overtraining.
Alasan utama mengapa tren ini berkembang pesat di Surabaya adalah cuaca kota yang cenderung panas dan lembap. Kondisi lingkungan seperti ini memberikan beban kerja ekstra pada sistem kardiovaskular atlet. Dengan menggunakan sensor yang presisi, pemain dapat memantau detak jantung mereka secara real-time. Hal ini sangat penting karena setiap individu memiliki zona target detak jantung yang berbeda untuk mencapai pembakaran energi maksimal tanpa harus membebani otot jantung secara berlebihan. Jika angka pada perangkat menunjukkan ritme yang terlalu tinggi atau tidak teratur, pelatih bisa segera menginstruksikan atlet untuk beristirahat sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti sinkop atau kelelahan ekstrem.
Di posisi pertama perangkat yang wajib dimiliki adalah Chest Strap Monitor. Berbeda dengan jam tangan pintar biasa, tali dada ini memberikan akurasi tingkat medis karena letaknya yang dekat dengan jantung. Bagi pemain profesional, akurasi adalah segalanya. Perangkat ini mampu merekam variabilitas detak jantung (HRV) yang menjadi indikator apakah tubuh atlet sudah pulih sepenuhnya dari latihan hari sebelumnya. Di Surabaya, penggunaan alat ini sudah menjadi pemandangan umum di lapangan-lapangan basket semi-profesional, di mana data dari setiap pemain dikumpulkan ke dalam satu pusat data untuk dianalisis oleh tim medis klub.
Selanjutnya, ada Wearable Tech yang dilengkapi dengan sensor elektroda yang ditenun langsung ke dalam kain. Pakaian pintar ini tidak hanya memantau ritme jantung, tetapi juga pernapasan dan keseimbangan otot. Di tahun 2026, inovasi ini sangat diminati karena lebih nyaman digunakan saat terjadi kontak fisik keras di bawah ring. Pemain tidak perlu khawatir alatnya terjatuh atau rusak karena terkena sikut lawan. Teknologi ini memungkinkan pelatih melihat secara visual bagian tubuh mana yang bekerja terlalu keras, sehingga program latihan bisa dipersonalisasi sesuai kebutuhan masing-masing individu.
