Bola basket modern telah mengalami transformasi taktis yang radikal, menjauh dari definisi kaku lima posisi tradisional (Point Guard, Shooting Guard, Small Forward, Power Forward, dan Center). Kini, kunci keberhasilan sebuah tim terletak pada konsep Small Ball dan Positionless Basketball, yang menuntut setiap pemain menguasai berbagai keterampilan sekaligus. Perubahan ini mendefinisikan ulang peran atlet dan menekankan pentingnya Posisi dan Fleksibilitas di setiap roster. Tim-tim terbaik di dunia, seperti yang mendominasi NBA dalam dekade terakhir, sukses karena kemampuan mereka memaksimalkan Posisi dan Fleksibilitas pemain mereka, memungkinkan pertahanan dan serangan berubah secara instan.
Di era Small Ball, batas antara Guard (penjaga) dan Forward (penyerang) hampir sepenuhnya kabur. Pemain yang dulunya dikategorikan sebagai Power Forward (nomor 4) kini diharapkan mampu menembak tiga angka (stretch four) dan menggiring bola. Sebaliknya, Point Guard (nomor 1) tidak hanya bertugas sebagai playmaker, tetapi juga harus mampu mencetak angka dari jarak jauh dan bertahan melawan pemain yang lebih tinggi. Konsep Posisi dan Fleksibilitas ini menciptakan lineup yang tidak dapat diprediksi oleh lawan. Contoh paling nyata terjadi pada Final NBA 2016, di mana tim yang mengandalkan pemain multifungsi mampu mengungguli tim yang lebih kaku, memaksa perubahan taktik besar di liga.
Salah satu kunci sukses Small Ball adalah kemampuan tim untuk menukar penjagaan (switch) di setiap pick-and-roll. Hal ini hanya mungkin terjadi jika semua pemain di lapangan memiliki tinggi, kecepatan, dan kemampuan bertahan yang hampir setara. Jika seorang Center tradisional terlalu lambat, ia akan menjadi sasaran empuk Guard lawan, merusak pertahanan tim. Oleh karena itu, Center modern (rim protector) harus mampu bergerak cepat dan bahkan menembak dari perimeter (Pop-Out Center). Asosiasi Pelatih Basket Amerika (NABC) dalam laporan tren taktis tahun 2024 mencatat bahwa program latihan di tingkat perguruan tinggi kini lebih fokus pada drill keterampilan umum (universal skills) daripada spesialisasi posisi.
Posisi dan Fleksibilitas juga memaksimalkan spacing di lapangan. Dengan pemain yang semuanya mampu menembak tiga angka, pertahanan lawan terpaksa meregang, meninggalkan ruang di tengah (paint) yang bisa dimanfaatkan untuk drive atau post-up yang lebih efisien. Pelatih kepala tim basket nasional Spanyol di Olimpiade 2020 (yang digelar pada Juli 2021) menunjukkan bagaimana tim dengan lineup yang pendek dan sangat fleksibel berhasil menembus pertahanan tim yang lebih besar dengan mengandalkan kecepatan passing dan cut tanpa bola. Kesuksesan di tingkat internasional ini menegaskan bahwa masa depan basket tidak lagi dipegang oleh pemain yang hanya menguasai satu keterampilan, melainkan oleh atlet yang memiliki Posisi dan Fleksibilitas all-around, mampu bermain di mana saja di lapangan.
