Dalam bola basket, seringkali kemenangan ditentukan di kuarter terakhir. Saat atlet lawan mulai melambat dan kehilangan akurasi karena kelelahan, atlet yang memiliki Daya Tahan Maksimal justru mampu mempertahankan intensitas dan membuat keputusan krusial. Mencapai Daya Tahan Maksimal ini tidak dicapai dengan lari jarak jauh seperti maraton, melainkan melalui latihan yang meniru pola energi high-intensity interval training (HIIT) dan perubahan arah mendadak yang menjadi ciri khas permainan basket. Dua latihan kunci yang menjadi rahasia atlet basket elit untuk membangun Daya Tahan Maksimal dan kecepatan adalah Shuttle Run dan Suicides.
1. Shuttle Run: Melatih Kelincahan dan Kecepatan
Shuttle Run adalah latihan bolak-balik yang mengukur kecepatan dan kelincahan dalam perubahan arah. Atlet harus berlari dari titik awal ke berbagai titik yang telah ditentukan (misalnya $5 \text{ meter}$, $10 \text{ meter}$, dan kembali ke $0 \text{ meter}$), lalu menyentuh garis dengan tangan atau kaki. Latihan ini melatih Deceleration (pengereman) dan Re-acceleration (akselerasi ulang) yang merupakan inti dari footwork basket.
Shuttle Run penting karena dalam pertandingan basket, atlet jarang berlari dalam garis lurus panjang. Mereka lebih sering melakukan sprint pendek, berhenti, dan segera mengubah arah. Dengan Shuttle Run, otot-otot kaki, terutama quadriceps dan hamstrings, dilatih untuk menahan tekanan perubahan kecepatan ini, memastikan atlet tetap lincah bahkan ketika kondisi fisik sudah sangat lelah di kuarter terakhir.
2. Suicides: Membangun Daya Tahan Mental dan Fisik
Latihan Suicides (sering disebut gassers) adalah bentuk Shuttle Run yang lebih intens dan panjang, biasanya melibatkan lari dari garis dasar ke garis free throw, kembali ke garis dasar, lalu ke garis tengah, kembali, dan seterusnya hingga garis dasar lawan. Latihan ini dirancang untuk memaksa atlet berlari dalam kondisi anaerobik (kekurangan oksigen), yang meniru kondisi tekanan tinggi saat fast break berulang kali di kuarter empat.
Tujuan utama Suicides tidak hanya melatih paru-paru, tetapi juga Daya Tahan Mental. Mendorong tubuh melewati batas kelelahan membantu atlet membangun ketahanan psikologis untuk tetap fokus dan tajam saat tubuh mereka menjerit minta istirahat. Menurut catatan pelatihan tim basket Indonesia Patriots pada tahun 2025, setiap pemain wajib menyelesaikan rangkaian Suicides dalam batas waktu ketat yang disimulasikan dari waktu timeout resmi, guna melatih kemampuan recovery dan kesiapan mental yang cepat. Latihan keras ini memastikan bahwa kelelahan fisik tidak meruntuhkan pengambilan keputusan di saat-saat genting.
