Bagi para pemain basket di kota pahlawan, intensitas permainan yang tinggi sering kali menuntut fisik untuk bekerja melampaui batas normal. Salah satu gangguan kesehatan yang paling sering menghantui para ballers adalah rasa nyeri tepat di bawah tempurung lutut. Kondisi ini secara medis dikenal sebagai tendinitis patelar, namun di kalangan atlet lebih populer dengan sebutan Jumpers Knee. Melalui koordinasi dengan tim medis di Perbasi Surabaya, edukasi mengenai cedera ini menjadi prioritas agar para pemain tidak terjebak dalam masalah kronis yang bisa menghambat performa mereka di lapangan.
Penyakit ini muncul akibat tekanan berulang pada tendon patela, yaitu jaringan yang menghubungkan tempurung lutut (patela) dengan tulang kering. Sesuai namanya, aktivitas melompat yang eksplosif dan mendarat dengan keras di lantai lapangan kayu atau semen menjadi pemicu utama. Di Surabaya, dengan banyaknya kompetisi antar-sekolah dan klub, banyak pemain muda yang mengabaikan rasa nyeri awal di lutut mereka. Padahal, mengenal cedera ini sejak dini adalah kunci agar kerusakan jaringan tidak berkembang menjadi robekan mikroskopis yang sulit pulih.
Gejala awal biasanya berupa rasa sakit yang tumpul saat memulai aktivitas atau setelah sesi latihan yang panjang. Namun, jika dibiarkan, rasa sakit tersebut akan muncul bahkan saat melakukan aktivitas sehari-hari seperti naik tangga atau duduk terlalu lama. Tim medis Perbasi Surabaya menekankan bahwa pemulihan bukan sekadar soal beristirahat, melainkan tentang rehabilitasi yang terstruktur. Langkah pertama dalam panduan pemulihan adalah fase reduksi nyeri akibat Jumpers Knee. Pada tahap ini, atlet harus mengurangi beban latihan secara drastis dan fokus pada kompres es serta terapi anti-inflamasi sesuai anjuran ahli.
Setelah nyeri mereda, fase berikutnya yang tidak kalah penting adalah penguatan eksentrik. Di berbagai pusat pelatihan basket di Surabaya, para pemain diajarkan latihan slant board squat untuk merangsang regenerasi serat tendon tanpa memberikan tekanan berlebih pada sendi. Tendon yang cedera membutuhkan beban yang terkontrol untuk kembali kuat, bukan sekadar didiamkan. Selain itu, fleksibilitas otot paha depan (quadriceps) dan otot belakang paha (hamstring) harus diperhatikan secara saksama. Otot yang kaku akan menarik tendon patela secara berlebihan, sehingga membuat beban kerja lutut menjadi tidak proporsional saat melakukan jump shot.
